Bencanaalam dapat mempengaruhi ketahanan nasional. Bencana alam menjadi salah satu ancaman bagi ketahanan nasional (Pranowo, 2010: 13). Terjadinya bencana mengakibatkan kehidupan menjadi lumpuh. Terjadinya bencana alam dapat mempengaruhi ketahanan pangan dan kesehatan di Indonesia. Bencana yang terjadi menyebabkan tidak berfungsinya lahan
Kumpulanpuisi tentang bencana alam di indonesia yang mengharukan PUISI LAKON‬ ANAK BENCANA Oleh: Kakcik Coconutz Blezz. Merapi menyembur kemurkaan. Tsyunami menggulung kehidupan. Derita Puisi Merenungkan Derita Bencana. Di suatu pagi nan sunyi. Daku merenung menatap matahari. Melihat masa lampau
Untuklebih jelasnya puisi tentang bencana alam telah menyapa disimak saja bait bait puisi berjudul alam telah menyapa dibawah ini. PUISI ALAM TELAH MENYAPA Oleh: Titis Arkadewi Panuluh. Menjerit menggila Pekik alam menangis Bumi bergoyang samba, dataran tinggi bergetar Bergoncang!!! Lautan bergejolak, ombak menari menyapa beringas
Fast Money. Ingin mengungkapkan keprihatinan dan kesedihanmu dengan menulis puisi tentang bencana alam? Kalau bingung dan sedang mencari inspirasi, kamu menemukan tempat yang tepat. Di sini, kamu bisa membaca beberapa contohnya yang tak hanya menginspirasi, tapi juga bisa membuatmu terenyuh. Langsung saja dibaca, yuk! Selain pantun, puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang biasanya digunakan untuk mencurahkan isi pikiran dan perasaan penulisnya. Ada banyak hal yang bisa ditulis menjadi puisi, baik itu tentang cinta, hobi, keadaan alam, dan masih banyak lagi. Nah dalam artikel ini, kamu akan membaca beberapa contoh puisi tentang bencana saudara-saudara kita di daerah lain mengalami bencana, apa yang biasa kamu lakukan? Tentu saja kamu akan memberikan bantuan baik materi maupun logistik, kan? Nah, tak hanya itu, kamu pun bisa memberi dukungan moril dengan mengungkapkan keprihatinan dan kesedihanmu dengan menulis sebuah masih bingung cara untuk menuangkan pikiranmu dalam sebuah puisi, kamu bisa membaca contoh-contohnya di sini. Siapa tahu setelah membacanya, kamu akan seperti apakah puisi tentang bencana alam tersebut? Kamu pastinya makin penasaran, kan? Daripada kelamaan, mending kamu langsung simak saja selengkapnya di bawah ini, ya! Selamat membaca! 1. Kamu di Mana? Akhirnya berita itu sampai kepada saya Gelombang tsunami setinggi 23 meter melanda rumahmu. Yang tersisa hanya puing-puing belaka. Di mana kamu, De’Na? Sia-sia teleponku mencarimu. Bagaimana kamu, Aceh? Di TV kulihat mayat-mayat yang bergelimpangan di jalan. Kota dan desa-desa berantakan. Alam yang murka manusia-manusia terdera dan sengsara. Di mana kamu, De’Na? Ketika tsunami melanda rumahmu, apakah kamu lagi bersenam pagi? dan ibumu yang janda lagi membersihkan kamar mandi? De’Na, kita tak punya pilihan untuk hidup dan mati. Namun untuk yang hidup kehilangan dan kematian selalu menimbulkan kesedihan. Kecuali kesedihan, selalu ada pertanyaan kenapa hal itu mesti terjadi dengan akibat yang menimpa kita? Memang ada kedaulatan manusia, De’Na. Tetapi lebih dulu sudah ada daulat alam. Dan kini kesedihanku yang dalam membentur daulat alam. Pertanyaanku tentang nasib ini merayap mengitari alam gaib yang sepi. De’Na! De’Na! Kini kamu menjadi bagian misteri yang gelap dan sunyi. Hidupku terasa rapuh oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh. Tanpa kejernihan dalam kehidupan bagaimana manusia bisa berdamai dengan kematian? De’Na, hatiku menjerit pilu. Di mana kamu? Bagaimana kamu? Yang tak bisa kutolak dalam bayangan, meski mataku terbuka atau terpejam, adalah gambaran orang banyak berlarian, dikejar gelombang 23 meter tingginya. Dan lalu gempa yang menenggelamkan gedung-gedung tinggi, membelah jalan raya, menjadi jurang menganga. Ribuan manusia menjadi sampah dalam badai. Kedahsyatan daulat alam, De’Na! Bukan sekedar kematian! Inilah yang membuat aku gemetaran! Tanpa menyadari ini apakah arti kebudayaan? Apakah pula arti puisi? Hidup dan segala usaha manusia barulah berarti dan nyata bila ia menyadari batas kemampuannya. De’Na, apakah sekarang kamu lagi tersenyum membaca sajakku semacam ini? Rendra, Di Mana Kamu De’Na? Apakah kamu masih ingat tentang bencana tsunami dahsyat yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam? Gelombang tsunami dengan tinggi mencapai 30 meter itu mampu memporak-porandakan rumah-rumah hingga rata dengan tanah dan menelan ratusan ribu korban jiwa. Nah, puisi tentang bencana alam karya Rendra di atas dibuat untuk mengenang musibah tersebut. Saat membaca puisinya, mungkin akan membuat hatimu miris dan sedih. Ketika membayangkan seseorang yang dikasihi menjadi korban keganasan alam, kamu mungkin hanya bisa pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Memang, tak ada yang kuasa menolak kemalangan. Pada akhirnya, kamu pun harus merelakan takdirnya untuk kembali bersama Sang Pencipta. 2. Berusaha Tabah Angin diam tak ingin mengusik keheningan candra pun enggan mencipta bayangan dipilihnya persembunyian dibalik awan paling tebal agar tak sedikitpun biasnya tertinggal Tak satu serangga pun bersuara meski sekadar untuk bersendawa senyap sungguh malam ini adanya aku pun tak sedang ingin bercanda…aku berduka! Belum habis kesedihan, datang kemalangan bencana terus mencoba-coba keimanan memisahkan kekasih dan keluarga seketika mencipta rintih tangis memilu menoreh luka Justru di saat berharap khusyuk mengisi Ramadhan bertubi Kau perlihatkan tantangan ketaqwaan ditengah kebakaran padat hunian diantara asap hutan menyesakkan di kepanikan gempa menakutkan sungguh ujian yang berat dijalankan… Masih dalam kesedihan mendalam semoga mereka mampu bertahan bertahan dari guncangan batin dan siksaan badan bertahan meneguh hati menerima cobaan bertahan…hingga mendulang nikmat di ujung Ramadhan Iga Mawarni, Cobaan Puisi tentang bencana alam ini ditulis sebagai wujud keprihatinan atas banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun 2009 lalu. Musibah besar diawali dengan tragedi jebolnya Bendungan Situ Gintung yang terjadi pada bulan April 2009 di daerah Jawa Barat. Kejadian tersebut menewaskan lebih dari seratus orang, puluhan orang hilang, dan puluhan rumah rusak berat. Beberapa bulan kemudian, tanah air kembali diguncang gempa yang menewaskan ribuan orang di Kota Tasikmalaya dan Padang yang terjadi hampir bersamaan. Terlebih lagi, para umat muslim tengah menjalankan ibadah Ramadhan dan menanti hari kemenangan pada waktu itu. Sehingga, bagi mereka yang selamat harus merayakan lebaran dalam kesedihan. Alam kalau sudah murka memang semengerikan itu, ya? 3. Alam pun Kecewa Alam semakin menegur kerja Memaki setiap nafas yang ada Mengadu pada sang pencipta Meregang dengan ketidakmampuan menyapa Terdiam dan hanya mampu melihat saja Buah kerja sang perusak alam Menyakiti jantung dan tepian kelam Mencoba menanggung setiap beban kejam Hanya karena manusia yang tak cinta alam Selalu geram dan geram Namun hanya bisa terdiam Lingkungan ikut menangis Melihat semuanya terkikis Menanti turunnya gerimis Menjadikan semuanya habis Alam dan lingkungan kini bersedih Tak ingin terjadi lagi tetapi semakin berlebih Alam dan lingkungan kini bermuram durja Tak ingin kembali luka meski sepertinya selalu saja Amma O’Chem, Ketika Alam Menangis Apa yang ada di benakmu saat membaca puisi tentang bencana alam di atas? Bisa jadi kamu berpikiran bahwa bencana alam terjadi karena alam ingin menegur perlakuan manusia yang semena-mena terhadapnya. Beberapa contohnya adalah penggundulan hutan, pengerukan barang tambang semaunya, membuang sampah plastik sembarang, dan masih banyak lagi. Tanpa disadari, mungkin kamu juga berkontribusi atas kemarahan alam. Nah, lewat puisi tentang bencana alam di atas, kamu diingatkan untuk menjaga kelestarian alam. Kamu bisa memulai langkah kecil dari dirimu sendiri, misalnya saja dengan membuang sampah di tempatnya. Lama-kelamaan, siapa tahu perbuatanmu itu akan menjadi contoh bagi orang-orang terdekatmu yang masih acuh terhadap lingkungan. 4. Belum Cukup Kenal Selalu kukira aku mengenalmu tapi ternyata belum Ketika kurasa kau tidur gedung runtuh mendadak surau dan sekolah terbelah Ketika kau gerakkan tangan untuk sekadar menggeliat dan ribuan orang berlarian ke sawah dan bebukitan bayi menangis, ibu menjerit Aku kerap merasa bisa memahamimu tapi kukira tidak Ketika kau menguap gemuruh bergelora air tinggi bergulung-gulung lalu berayun-ayun perahu menghempas pantai dan batang kelapa menenggelamkan pasir merendam jalan-jalan tepian Kini kutahu aku harus terus membacamu tiap-tiap huruf dalam buku serta hela nafas dan gerakmu karena kami bukan apa-apa sebatas debu dalam gurunmu Hendy Ch Bangun, Bencana Tidak ada seorang pun yang tahu tentang kapan datangnya sebuah bencana, salah satu contohnya adalah gempa. Keadaan yang semula tenang dan terlihat biasa saja, tiba-tiba akan langsung membuat gempar ketika musibah datang. Orang-orang dengan panik akan berusaha untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang dicintai dengan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Memang, di Indonesia sudah ada sebuah lembaga yang mampu melacak gempa dan potensi yang mengikutinya, yaitu Badan Meterologi dan Geofisika BMG. Namun tentu saja, bencana bisa datang lebih cepat dari yang diduga. Dan, sebagai manusia hanya bisa pasrah dan berserah saat itu semua terjadi karena jika dibanding dengan alam, manusia tidak ada apa-apanya. Kira-kira seperti itulah isi dadi puisi tentang bencana alam karya Hendy Bangun ini. Baca juga Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar yang Sangat Populer dan Melegenda 5. Alam Bergejolak Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita Ada sesuatu yang mulanya tidak begitu jelas tapi kita kini mulai merindukannya Kita saksikan udara abu-abu warnanya Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya Burung-burung kecil tak lagi berkicau pergi hari Hutan kehilangan ranting Ranting kehilangan daun Daun kehilangan dahan Dahan kehilangan hutan Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksida itu menggilas paru-paru Kita saksikan Gunung membawa abu Abu membawa batu Batu membawa lindu Lindu membawa longsor Longsor membawa air Air membawa banjir Banjir air mata Kita telah saksikan seribu tanda-tanda Bisakah kita membaca tanda-tanda? Allah Kami telah membaca gempa Kami telah disapu banjir Kami telah dihalau api dan hama Kami telah dihujani api dan batu Allah Ampunilah dosa-dosa kami Beri kami kearifan membaca tanda-tanda Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan akan meluncur lewat sela-sela jari Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas tapi kini kami mulai merindukannya Taufiq Ismail, Membaca Tanda-Tanda Apa yang kamu pikirkan saat membaca puisi tentang bencana alam karya salah satu penyair legendaris Indonesia, Taufiq Ismail di atas? Mungkinkah hatimu dibuat terenyuh saat membacanya? Nah, melalui ini, penyair ingin mengajakmu untuk lebih peka dengan tanda-tanda kerusakan alam yang semakin lama semakin memprihatinkan. Alam yang dulunya asri, kini keadaannya menjadi memprihatinkan karena ulah keserakahan manusia. Salah satu contoh nyatanya adalah penggundulan hutan akibat penebangan liar. Dampak yang ditimbulkan pun tidak main-main, di antara adalah banjir, longsor, kehilangan flora dan fauna langka, dan masih banyak lagi. Semoga manusia segera menyadari hal tersebut karena alam sudah sering menunjukkan gejala-gejalanya, sebelum semuanya semakin terlambat. Baca juga Yuk, Baca Pantun Teka-Teki Ini dan Cobalah Tebak Maknanya! 6. Ketulusan untuk Membantu Manakala bencana melanda dan kau masih sibuk nyinyir ke sana ke mari, tak peduli yang kesakitan, meraung-raung dalam duka, tak peduli kau, maka kau tentulah hanya daging berjalan, bukan lagi manusia. Apalagi ketika bencana menghantam dan kau justru senang beroleh kesempatan untuk menohok lawanmu, mengaitkan sikap dirinya dengan bencana yang datang, memprovokasi masyarakat seolah bencana hadir lantaran salah lawanmu, maka kau tentulah dan pastilah hanya seonggok sampah. Manakala bencana datang marilah bersatu ulurkan tangan bantu sesama dan bukannya justru jadikan bencana sarana menghina dan menista. Berty Sinaulan, Manakala Kamu mungkin masih ingat mengenai bencana gempa bumi dahsyat yang mengguncang Lombok pada bulan Juli 2018. Gempa berkekuatan 6,4 skala richter itu bahkan juga sampai dirasakan sampai ke Bali dan Banyuwangi. Akibat musibah tersebut, ratusan orang meninggal dunia dan puluhan ribu rumah rusak berat. Namun di tengah bencana yang terjadi, ada oknum-oknum tertentu yang malah memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan pribadi maupun golongan politik tertentu. Malah, ada pula yang mengaitkannya dengan hal yang tidak masuk akal, misalnya seperti mengatakan hal tersebut merupakan sebuah azab. Padahal dalam situasi yang seperti itu, orang-orang harus saling bahu-membahu untuk menolong mereka yang sedang kesusahan, bukan untuk menyalahkan orang atau golongan tertentu. Begitulah kira-kira isi dari puisi tentang bencana alam di atas. Baca juga Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara untuk Menghibur Harimu 7. Tak Dinyana Tak disangka tak dikira Tak sadar dan tak menyadari Negeriku yang tercinta Negeri indah sang surgawi Bumi bergoyang bak penari Bumi bergelombang bak penyanyi Air surgawi menerjang Merusak bumi yang indah Kulihat dan kudengar Kurasa dan kujiwai Rumah dan jalan merebah Sujud kembali kepadaNya Tak disangka tak dikira Tak sadar dan tak menyadari Negeriku yang tercinta Negeri indah sang surgawi Negeri menangis dan meraung Negeri berduka dan merenung Hanya ada satu jalan Bersatu dan bersama Membangun negeri surgawi Menyatu dengan alam Menyatu dengan jiwa Memeluk sang Khalik Kembali ke jalanNya Jalan yang terbaik Untuk negeri surgawi Selamanya hingga akhir zaman. Asrul Sani Abu, Bencana di Negeri Surgawi Jika kamu membaca puisi bencana alam ini, bisa jadi pikiranmu akan langsung tertuju sebuah bencana yang kerap menerjang Indonesia, yaitu tsunami. Mungkin juga, kamu masih ingat bencana tsunami yang terjadi pada penghujung tahun 2018 di Pantai Carita, Jawa Barat. Musibah tersebut menewaskan ratusan orang, termasuk beberapa anggota band Seventeen yang tengah manggung di sebuah acara yang diadakan di pantai tersebut. Takdir seseorang memang tidak ada yang tahu, ya. Karena tidak ada yang bisa memprediksi kapan datangnya sebuah bencana, akhirnya manusia hanya bisa pasrah akan takdirnya. Dengan adanya musibah-musibah tersebut, semoga membuat manusia lebih sadar dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Baca juga Kumpulan Kata-Kata Pantun Cinta Romantis untuk Pacar, Gebetan, dan Mantan Puisi tentang Alam Manakah yang Paling Membuatmu Terenyuh? Itulah 7 puisi tentang bencana alam yang bisa kamu simak di KepoGaul. Menurutmu, puisi mana yang membuat hatimu teriris pedih saat membacanya? Mungkin juga, setelah membaca beberapa sajak tersebut, kamu pun jadi merasa kecil dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan alam. Maka dari itu, sebagai manusia yang diberi akal sudah sepantasnya untuk menjaga alam dan tidak terus-terusan merusaknya. Apa perlu alam dibuat sebegitu marahnya untuk menegur manusia yang masih bersikap acuh ini? Kalau kelestarian alam terjaga, siapa lagi yang akan menikmatinya kalau bukan kita sendiri? Semoga puisi di atas bisa dijadikan bahan renungan, ya! Nah, selain artikel mengenai puisi di atas, tidak ada salahnya kamu membaca artikel lain yang tak kalah menarik di KepoGaul. Salah satunya ada berbagai artikel yang lucu dan bisa membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Untuk kamu para cewek yang menyukai fashion dan makeup, bisa juga, lho, membaca artikel seputar cewek yang informatif abis. Lengkap banget, kan? Makanya, baca terus, ya! PenulisErrisha RestyErrisha Resty, lebih suka dipanggil pakai nama depan daripada nama tengah. Lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang lebih minat nulis daripada ngajar. Suka nonton drama Korea dan mendengarkan BTSpop 24/7. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
Ilustrasi Puisi tentang Bencana Alam sebagai Pengingat. Foto Unsplash/naif tentang Bencana AlamIlustrasi Puisi tentang Bencana Alam sebagai Pengingat. Foto Unsplash/naif alam, murka alamKamu tidak bisa lepas dari jalan destruktif merekaItu bisa menjadi tornado Dengan angin berputar-putarMengangkat semua yang ada di jalannyaBerdoa kita hidup untuk melihat hari berikutnyaMungkin gempa bumi yang kuat dengan deru kerasnyaDampaknya terlihat seperti sedang berperangBangunan runtuh dan jatuh ke tanahTumpukan beton menjadi gundukanLalu tsunami yang pasti datangdatang dengan dengungan yang kerasAir mengambil semua yang ada di jalurnyaSeperti yang ditunjukkan alam, itu benar-benar murkaKemudian badai menjadi begitu kuat, sekarang badai telah lahirIbu alam menunjukkan telah menyebabkan banjirDengan jalanan menjadi dinding lumpurLalu ada longsoran salju, dinding salju raksasaApa pun di jalurnya menjadi musuhGunung berapi yang bergolakSebuah sungai lava raksasa, menuruni gunung itu bersinarSekarang saatnya kita semua bersiapIbu alam bukanlah orang yang berani!Anak kecil di samping rumahDengan ceria bermain airMenyepak dan menyemburBerlari dan berenangAwalnya aku terpukauTapi kenyataan berkata lainMereka sejatinya tengah merintihTertawa dalam tangisanPedih, mengiris dan dukaPenyakit mengintai merekaBerada di sekeliling merekaBahwa itu adalah bencanaBersabarlah, SayangMaafkan merekaJadilah anak yang setiaUntuk menjaga alam semestaKala kau beranjak dewasaJangan kau sesaliAku tahu kau belum mengertiAku paham kau masih buta dan tuliNamun inilah yang terjadiJadikan cobaan alam sebagai penyadar diriSore ini hujan begitu derasMenghantam bumi dengan ganasSementara di seberang jalanBeberapa anak menari ceriaMenikmati anugerah Yang KuasaPadahal, cerita berakhir lainDi kala hujan redaPerlahan genangan mengalir jauhTanpa komando tanpa patuhTanpa iba menghajar yang rapuhBagaimana tidakTempatnya berlalu telah tertutupSebab watak manusia yang engganMemberi perhatian terhadap selokanMaka dari ituTak perlu tangisi yang terjadiJangan sesali kenyataan iniSemua takkan terjadi bila manusia peduliHingga hujan tiba lagiGenangan masih mengepungMencuri seisi rumahMenghanyutkan secuil gairahDari mereka yang mengharapkan sepercik cerahSiapa yang cipta semua bencana Jika kalian peka dan merasaAda bencana karena campur tangan manusia Tuhan bilang "Pastinya" Ulah tangan-tangah serakah Menantang alam dengan gagah Timbulkan kerusakan masih kau sanggah Tutup mata, kau buang salah Gambaran tamparan Tuhan yang nyata diperlihatkan Banjir, longsor, kekeringan akibat kerusakan hutan Tapi kalian masih berani tawar Semua ini kau anggap wajar Tak merasa kalau ditampar Meski bencana datang mengular
Ilustrasi seseorang yang mengarang puisi tentang alam. Foto PixabayIlustrasi membaca puisi tentang alam pegunungan. Foto PixabayPuisi tentang Alam PegununganIlustrasi membaca puisi tentang alam dan cinta. Foto PixabayPuisi tentang Alam dan CintaIlustrasi menulis puisi tentang keindahan alam. Foto PixabayPuisi tentang Keindahan AlamIlustrasi kumpulan puisi tentang bencana alam. Foto PixabayPuisi tentang Bencana AlamIlustrasi membuat puisi tentang lingkungan alam. Foto PixabayPuisi tentang Lingkungan Alam
puisi bencana alam indonesia